Entah aku harus memulainya dari mana dan mengungkapkannya dengan apa
Aku sedang di jeruji cinta
Cinta yang membuncah di dada
Cinta yang membuncah di dada
Aku mencintaimu lewat hatiku bukan mataku
Aku ingin mencintaimu seperti matahari yang tak ingkar di senja hari
Seperti embun yang bernyanyi di awal pagi
Seperti pelangi kala hujan turun ke bumi
Seperti lantunan Ar-Rahman kala langit sedang bertasbih
Seperti taburan bintang kala malam sedang suram
Seperti tarian ombak kala laut sedang tenang
Seperti kopi hitam pelipur sunyi
Kutulis namamu di fikirku, namun usia perlahan mengikisnya
Kutulis namamu di langit, namun awan hitam menghalanginya
Kutulis namamu di hamparan pasir, namun ombak menghapusnya
Kutulis namamu di samudera, namun badai menghempaskannya
Maka ku tulis namamu dalam hatiku, dan di sinilah namamu tak terhapuskan
Dalam pejam mata kutuliskan berbaris-baris kata rindu
Dalam fikiran, kutulis berbait-bait puisi berbentuk doa
Dalam kertas putih nan suci, kutuangkan sabda-sabda cinta
Dalam hela nafas yang memburu akan kasihmu, kubiarkan seluruh rasa yang kau berikan berhembus dan terhirup mengikutinya begitu saja.
Dalam getaran degup jantung, kurelakan rindumu menunggangi kuatnya cintaku.
Ku kemas rasa ini dengan sampul indah berlukiskan lambang cinta merah merona,
lalu ku ikat dengan simpul lambang kasih sayang
Tak lama lagi kado yg ku rangkai indah akan ku hadiahkan untukmu.
Hanya untukmu duhai pelita kesunyian..
No comments:
Post a Comment