Rinai rinduku tercekat
Saat rindumu wafat
Menyemu dibalik bisu
Remang rinduku kian gamang
Diantara ketidakpastian
Derai lingsir menyisir
Tertelan gelapnya buta
Hening..
Ketika untaian kata ingin memberontak
Memecah kebisuan dalam degub jantung yang kencang
Berdebar..
Ego menguasai akal
Pinta tak terkendalikan
Namun,
Pupus..
Retak muka remuk raga
Nyali tak sekuat hati
Ditambah pantulan dingin memudarkan nafsu keberanian
Acuh yang tak diharapkan
Cambikan yang tak diidamkan
Kecapan yang tak dihiraukan
Diam dengan seribu untaian
Kemana perginya cinta?
Kemana larinya sayang?
Jika saja cinta tak tertelan, kan ku pegang ia sekuat pintalan tekat
Jika ia mengundang bara kan ku lerai dengan baridnya cinta
Namun, khayalan konyol yang tak sedikitpun tergores dengan penanya
Tak mungkin dan sekali lagi "tak mungkin".
No comments:
Post a Comment