Dulu, aku pernah datang dengan balita cinta. Menyeduh rasa untuk menciptakan kehangatan menjalani masa. Mempelajari setiap bisikan manusia untuk merawat dan menjalani kehidupan dengan cinta yang berkasih. Tanpa memperdulikan semesta yang cemburu atas cintaku yang kian subur nan bersemai.
Dulu, aku pernah pergi karena diusir paksa. Aku didakwa atas penyelewengan adat dalam semesta. Aku tercaci, tersakiti, terbuang sebagai budak yang beradat. Tersisih tanpa sumbangsih dan terancam terkubur tanpa belasungkawa.
Sekarang, aku menjadi budak dalam tempurung semesta. Menyambut masa depan dengan memasrahkan takdir Tuhan di zaman azali. Jadi segala tempat dan posisi dengan sedemikian banyak rasa yang menyinggahiku kuterima sebagai pelagi semestaku.
Sekarang, aku akan pergi bersama masa lalu dengan mengemban penyesalanku. Aku akan terus merangkak meski harus menggendong kerapuhan untuk menjajaki masa yang terus melaju. Aku akan berjalan dengan sisa-sisa asa dari berlalunya masa yang menguras rasa bertahan dengan manusia. Aku memang dalam kerusakan dunia namun aku tak akan terusir darinya, sebab semesta yang lain telah mencintaiku.
Jadi, pulanglah. Tapi bukan kepadaku. Selamat jalan calon penghuni masa depanku. Selamat menjadi penghuni baru dalam masa laluku.
Trenggalek, 31 Maret 2019