Sejarah telah tertoreh
Semasa hidup mengukir cerita
Hingga batu nisan telah terukir nama
Dalam gundukan tanah yang tak berbunga
Semasa hidup mengukir cerita
Hingga batu nisan telah terukir nama
Dalam gundukan tanah yang tak berbunga
Kutertunduk di atas pusara
Bayanganku meronta menyibak tirai sukma
Engkau yang sungguh bermakna
Sapa batinku, kerinduanku tiada tara
Bayanganku meronta menyibak tirai sukma
Engkau yang sungguh bermakna
Sapa batinku, kerinduanku tiada tara
Seketika, jiwaku meramu gamang
Air di sudut mata berintik-rintik jatuh
Hatiku luluh
Pilu tanpa hadirnya jasadmu yang utuh
Kehilanganmu adalah lukaku
Kehilanganmu adalah kegetiran yang harus kukecap seiring bergulirnya waktu
Kehilanganmu adalah kekosongan paling hampa yang harus kupikul dalam hidupku
Kehilanganmu telah merenggut separuh semangatku
Kehilanganmu adalah kegetiran yang harus kukecap seiring bergulirnya waktu
Kehilanganmu adalah kekosongan paling hampa yang harus kupikul dalam hidupku
Kehilanganmu telah merenggut separuh semangatku
Namun, aku tak bisa diam dalam telaga haus asa
Aku harus terlatih dalam lara
Karena engkau tak hanya butuh tangisanku
Apalagi auman keluhanku
Aku harus terlatih dalam lara
Karena engkau tak hanya butuh tangisanku
Apalagi auman keluhanku
Napas kuhirup untuk membasuh jiwa
Ribuan sayang kuungkapkan
Ribuan doa kulantunkan
Semua harapan kutumpahkan
Ribuan sayang kuungkapkan
Ribuan doa kulantunkan
Semua harapan kutumpahkan
Di atas pusara Bunda
Kutaburkan bunga
Semoga engkau bahagia di surga
Orang yang paling kucinta.
Kutaburkan bunga
Semoga engkau bahagia di surga
Orang yang paling kucinta.
28 Desember 2017