Search This Blog

Friday, September 11, 2020

SELAMAT JALAN

/1/
Aku tak ingat kapan terakhir kali kau menimangku
Aku tak ingat kapan terakhir kali kau membuatku tertawa lepas;
Mengajariku seakan hidup tak pernah memberikan beban apapun kecuali hanya bahagia

/2/
Bertahun terlewati
Matahari menjelma bulan
Bulan beranak bintang
Dari keringnya kemarau
Sampai basahnya penghujan
Musim demi musim perlahan menggurat keriput di tanganmu

Dulu kau yang mengantarku ke pintu gerbang sekolah
Kini kau juga yang mengantarkanku ke pintu gerbang perpisahan; kepergianmu

Saat itu
Bumi tiba-tiba bermuram durja
Membuat rinai hujan jatuh
Menjemput kepergianmu

Ternyata
Perihal tangisan, bumi begitu lemah
Padahal besarnya bumi melebihi ukuran manusia
Tapi lihat; bahkan manusia kadang terlalu kokoh untuk membendung air matanya sendiri
Sampai lupa kalau menangis adalah salah satu tanda kemanusiaan

/3/
Ayah, akukah anak durhaka yang ada dalam cerita rakyat?
Akukah sang Malin Kundang?
Akukah yang membiarkan Ayah dan Ibu saling mengobati di atas pembaringan?
Sedangkan aku selalu membawa harapan untuk pulang dari negeri sebrang

Ayah, bagaimana bisa mereka menyebutku anak durhaka?
Sedangkan aku telah menunaikan tanggung jawabku sebagai seorang anak; mengurangi beban yang kau pikul

Jika kalian mencurahkan hujan kepadaku; bagaimana bisa aku menahan tanaman untuk tumbuh?
Bagaimana mungkin aku menahan kembang untuk layu sebelum mekar?
Padahal, harapan di muka bumi ini selalu penuh dengan segala penghidupan

/4/
Jika sebelumnya Tuhan memberikan kabar atas kepergianmu
Sudah pasti aku akan bersiap untuk membisikkan kalimat tauhid di telingamu;
Ya, seperti kau mengajariku sewaktu aku masih kecil dulu

/5/
Selama aku hidup, aku sudah belajar banyak. Bahkan perihal cara untuk melepaskan sebuah raga yang teramat berharga
Aku tahu, kau akan selalu hidup dalam hati dan fikiran kami
Kau akan selalu hidup dalam kenangan keluarga ini.

Trenggalek, 2020

Friday, August 28, 2020

AKU ADALAH EJAKULASI DINI

Daripada aku, ayahku lebih suka google yang lebih pintar dalam menjawab persoalan-persoalan dan mencari uang

Daripada aku, ayahku lebih suka bercerita kepada beranda facebooknya
Menceritakan tentang kebodohan anaknya, disusul dengan nyinyiran para warga sosial media

Aku adalah anak yang tidak sengaja tercipta dari gairah yang menggebu-gebu.
Aku adalah ejakulasi dini ayah yang kemudian dibenci ibuku
Aku adalah kekalahan di dalam perang Mahabarata

Jika saja waktu itu aku bisa memilih, aku lebih memilih untuk keluar di luar;
Keluar di atas perut ibuku
Dan terkubur di dalam pori-pori perut ibuku.

Trenggalek, 2020

Thursday, August 27, 2020

KESUNYIAN

Saat kau dalam kesunyiaan
Sejatinya di situlah letak bunyi bertekanan tinggi berada
Ia lebih sunyi dari hembus nafas
Lebih sunyi dari degup jantung
Lebih sunyi dari denyut nadi
Lebih sunyi dari aliran darah

Pengembaraan malam adalah pengembaraan kesenyapan;
Tak semua orang mampu mendengar sesuatu yang taramat bisu.

Trenggalek
19 Agustus 2020

RATAP

Oleh: Yahya Ibhan


Kita akan menangis

Di peraduan cakrawala 

Meratapi kilau jingga

Yang kian tiada


Kita mulai berkemas:

Menggulung kembali janji, mencuci kenangan dengan air mata, kemudian pulang berbekal mendung yang mulai bergerimis


Tidurlah malam ini dengan berselimut dingin

Air mataku akan menghujani lelap tidurmu, Sayang.


Trenggalek

28 Agustus 2020

Sunday, October 27, 2019

NEGRI BAIK

Siapa yang baik ?
Baik yang siapa ?

Siapa baik ?
Baik siapa ?

Baikkukah ?
Baikmukah ?

Hoy!
Yang baik baikbaikkan kebaikan-kebaikanku !

Durenan Trenggalek
27 Oktober 2019