/1/
Aku tak ingat kapan terakhir kali kau menimangku
Aku tak ingat kapan terakhir kali kau membuatku tertawa lepas;
Mengajariku seakan hidup tak pernah memberikan beban apapun kecuali hanya bahagia
/2/
Bertahun terlewati
Matahari menjelma bulan
Bulan beranak bintang
Dari keringnya kemarau
Sampai basahnya penghujan
Musim demi musim perlahan menggurat keriput di tanganmu
Dulu kau yang mengantarku ke pintu gerbang sekolah
Kini kau juga yang mengantarkanku ke pintu gerbang perpisahan; kepergianmu
Saat itu
Bumi tiba-tiba bermuram durja
Membuat rinai hujan jatuh
Menjemput kepergianmu
Ternyata
Perihal tangisan, bumi begitu lemah
Padahal besarnya bumi melebihi ukuran manusia
Tapi lihat; bahkan manusia kadang terlalu kokoh untuk membendung air matanya sendiri
Sampai lupa kalau menangis adalah salah satu tanda kemanusiaan
/3/
Ayah, akukah anak durhaka yang ada dalam cerita rakyat?
Akukah sang Malin Kundang?
Akukah yang membiarkan Ayah dan Ibu saling mengobati di atas pembaringan?
Sedangkan aku selalu membawa harapan untuk pulang dari negeri sebrang
Ayah, bagaimana bisa mereka menyebutku anak durhaka?
Sedangkan aku telah menunaikan tanggung jawabku sebagai seorang anak; mengurangi beban yang kau pikul
Jika kalian mencurahkan hujan kepadaku; bagaimana bisa aku menahan tanaman untuk tumbuh?
Bagaimana mungkin aku menahan kembang untuk layu sebelum mekar?
Padahal, harapan di muka bumi ini selalu penuh dengan segala penghidupan
/4/
Jika sebelumnya Tuhan memberikan kabar atas kepergianmu
Sudah pasti aku akan bersiap untuk membisikkan kalimat tauhid di telingamu;
Ya, seperti kau mengajariku sewaktu aku masih kecil dulu
/5/
Selama aku hidup, aku sudah belajar banyak. Bahkan perihal cara untuk melepaskan sebuah raga yang teramat berharga
Aku tahu, kau akan selalu hidup dalam hati dan fikiran kami
Kau akan selalu hidup dalam kenangan keluarga ini.
Trenggalek, 2020
Samudra Puisi
Search This Blog
Friday, September 11, 2020
Friday, August 28, 2020
AKU ADALAH EJAKULASI DINI
Daripada aku, ayahku lebih suka google yang lebih pintar dalam menjawab persoalan-persoalan dan mencari uang
Daripada aku, ayahku lebih suka bercerita kepada beranda facebooknya
Menceritakan tentang kebodohan anaknya, disusul dengan nyinyiran para warga sosial media
Aku adalah anak yang tidak sengaja tercipta dari gairah yang menggebu-gebu.
Aku adalah ejakulasi dini ayah yang kemudian dibenci ibuku
Aku adalah kekalahan di dalam perang Mahabarata
Jika saja waktu itu aku bisa memilih, aku lebih memilih untuk keluar di luar;
Keluar di atas perut ibuku
Dan terkubur di dalam pori-pori perut ibuku.
Trenggalek, 2020
Daripada aku, ayahku lebih suka bercerita kepada beranda facebooknya
Menceritakan tentang kebodohan anaknya, disusul dengan nyinyiran para warga sosial media
Aku adalah anak yang tidak sengaja tercipta dari gairah yang menggebu-gebu.
Aku adalah ejakulasi dini ayah yang kemudian dibenci ibuku
Aku adalah kekalahan di dalam perang Mahabarata
Jika saja waktu itu aku bisa memilih, aku lebih memilih untuk keluar di luar;
Keluar di atas perut ibuku
Dan terkubur di dalam pori-pori perut ibuku.
Trenggalek, 2020
Thursday, August 27, 2020
KESUNYIAN
Saat kau dalam kesunyiaan
Sejatinya di situlah letak bunyi bertekanan tinggi berada
Ia lebih sunyi dari hembus nafas
Lebih sunyi dari degup jantung
Lebih sunyi dari denyut nadi
Lebih sunyi dari aliran darah
Pengembaraan malam adalah pengembaraan kesenyapan;
Tak semua orang mampu mendengar sesuatu yang taramat bisu.
Trenggalek
19 Agustus 2020
Sejatinya di situlah letak bunyi bertekanan tinggi berada
Ia lebih sunyi dari hembus nafas
Lebih sunyi dari degup jantung
Lebih sunyi dari denyut nadi
Lebih sunyi dari aliran darah
Pengembaraan malam adalah pengembaraan kesenyapan;
Tak semua orang mampu mendengar sesuatu yang taramat bisu.
Trenggalek
19 Agustus 2020
RATAP
Oleh: Yahya Ibhan
Kita akan menangis
Di peraduan cakrawala
Meratapi kilau jingga
Yang kian tiada
Kita mulai berkemas:
Menggulung kembali janji, mencuci kenangan dengan air mata, kemudian pulang berbekal mendung yang mulai bergerimis
Tidurlah malam ini dengan berselimut dingin
Air mataku akan menghujani lelap tidurmu, Sayang.
Trenggalek
28 Agustus 2020
Sunday, October 27, 2019
NEGRI BAIK
Siapa yang baik ?
Baik yang siapa ?
Siapa baik ?
Baik siapa ?
Baikkukah ?
Baikmukah ?
Hoy!
Yang baik baikbaikkan kebaikan-kebaikanku !
Durenan Trenggalek
27 Oktober 2019
Subscribe to:
Comments (Atom)